Laboratorium Menengah Teknik Industri

National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)

Hello, Ergoers!

 

Pernahkah kalian berpikir, bagaimana cara mengetahui apakah suatu aktivitas kerja sudah sesuai dengan prinsip ergonomi? Nah, salah satu lembaga yang berperan disana adalah National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Lalu, sebenarnya apa sih NIOSH itu dan apa saja perannya dalam dunia ergonomi? Yuk, kenalan lebih jauh!

 

Apa itu National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)?
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) merupakan lembaga dari Amerika Serikat yang berfokus pada keselamatan dan kesehatan dari pekerja. Aktivitas seperti mengangkat barang, mempertahankan posisi, atau melakukan gerakan berulang diteliti oleh NIOSH untuk mengetahui risiko dan membuat pekerjaan lebih aman dengan menyesuaikan kinerja dari manusia. Nah, salah satu bidang yang tidak bisa dipisahkan dari keselamatan dan kesehatan dalam kegiatan kerja adalah ergonomi. Maka dari itu, NIOSH memiliki peran penting dalam dunia ergonomi.

Apa saja peran National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam dunia ergonomi?

 

  • Meneliti risiko kerja untuk mempelajari berbagai risiko yang dapat memengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Menyusun pedoman untuk membantu mencegah cedera dan gangguan kesehatan akibat pekerjaan.
  • Mengembangkan metode penilaian untuk membantu mengidentifikasi dan menilai risiko kegiatan kerja.
  • Mengembangkan NIOSH Lifting Equation untuk menilai risiko pada aktivitas mengangkat dan menurunkan beban secara manual.

Yuk, kenalan dengan NIOSH Lifting Equation!

NIOSH Lifting Equation pertama kali dikenalkan oleh NIOSH untuk menilai aktivitas pekerjaan mengangkat atau memindahkan beban. Metode ini digunakan untuk mengukur seberapa besar kemungkinan otot pekerja terbebani secara berlebihan saat mengangkat atau memindahkan beban. Terdapat empat hal yang diperhatikan dalam penerapan NIOSH Lifting Equation, yaitu:

 

  1. Berat beban yang dipindahkan. Semakin berat benda yang dipindahkan, semakin besar tekanan yang diterima otot dan tulang belakang.
  2. Posisi pembebanan terhadap tubuh. Posisi beban terhadap tubuh dipengaruhi tiga hal:
    • Jarak horizontal, yaitu jarak beban yang dipindahkan dari titik asal (origin) sampai tujuan (destination). Semakin jauh beban dari tubuh, semakin berat kerja otot punggung untuk menahannya.
    • Jarak vertikal, yaitu seberapa tinggi atau rendah beban diangkat dan dipindahkan.
    • Sudut pemindahan, yaitu seberapa besar tubuh harus memutar saat memindahkan beban.
  3. Frekuensi pemindahan. Frekuensi dicatat sebagai rata-rata jumlah pemindahan per menit, terutama untuk pekerjaan berfrekuensi tinggi. Semakin sering beban dipindahkan, semakin sedikit waktu otot untuk beristirahat.
  4. Durasi. Durasi adalah lamanya waktu pekerja melakukan aktivitas pemindahan atau pengangkatan beban. Beban yang sama bisa aman untuk waktu singkat, tetapi berisiko jika dilakukan berjam-jam.

Berapa sih rekomendasi berat beban yang aman untuk diangkat? Jawabannya bisa ditemukan lewat Recommended Weight Limit (RWL)

Recommended Weight Limit (RWL) adalah nilai rekomendasi batas berat beban yang aman untuk diangkat oleh seorang pekerja (tanpa alat bantu). Selama beban tidak melebihi batas ini, pekerja tidak akan mengalami cedera, walaupun pekerjaan tersebut dilakukan secara berulang dan dalam waktu yang lama. RWL ditetapkan oleh NIOSH pada tahun 1991 di Amerika Serikat. Persamaan ini berlaku apabila memenuhi lima kondisi berikut (Waters et al., 1994).

 

  1. Beban tidak berubah. Berat beban tetap sama dari awal sampai akhir pekerjaan, tanpa ada yang ditambah atau dikurangi di tengah jalan.
  2. Beban diangkat dengan dua tangan. Pengangkatan dengan satu tangan tidak termasuk.
  3. Durasi maksimal 8 jam. Kegiatan mengangkat atau menurunkan beban tidak lebih dari 8 jam kerja.
  4. Pekerja tidak sedang duduk atau berlutut. Rumus ini dibuat untuk pekerja yang mengangkat dalam posisi berdiri.
  5. Ruang kerja tidak sempit. Pekerja punya cukup ruang untuk bergerak saat mengangkat.

Penasaran bagaimana cara menghitung RWL? Ini dia rumusnya!
Berat beban yang direkomendasikan NIOSH untuk diangkat seorang pekerja dapat dihitung menggunakan rumus berikut (Waters et al., 1994).

RWL = LC × HM × VM × DM × AM × FM × CM

Nilai RWL diperoleh dari tujuh perkalian, yaitu satu konstanta pembebanan (LC) dan enam faktor pengali, dimana setiap faktor menyesuaikan batas beban dengan kondisi kerja yang sebenarnya. Berikut adalah arti simbol dalam rumus perhitungan RWL.

Catatan:
H = Jarak horizontal posisi tangan yang memegang beban dengan titik pusat tubuh.
V  = Jarak vertikal posisi tangan yang memegang beban terhadap lantai.
D = Jarak perpindahan beban secara vertikal antara tempat asal sampai tujuan.
A = Sudut simetri putaran yang dibentuk antara tangan dan kaki.

Tahukah kalian, bagaimana cara mengetahui pekerjaan mengangkat itu berisiko atau tidak? Yuk, ketahui rumus Lifting Index (LI)!
Setelah nilai RWL diperoleh, langkah berikutnya adalah menghitung Lifting Index (LI). Indeks ini digunakan untuk mengetahui apakah aktivitas pengangkatan dapat menyebabkan risiko cedera tulang belakang atau tidak. LI dapat dihitung menggunakan rumus berikut (Waters et al., 1994).

Adapun cara membaca nilai yang dihasilkan dari perhitungan LI.

Jika nilai LI lebih dari 1, perbaikan bisa dilakukan dengan mengurangi berat beban, mendekatkan beban ke tubuh, mengatur ketinggian tempat beban, mengurangi putaran tubuh, atau memakai alat bantu angkat.

Penasaran bagaimana cara mengatur posisi beban agar nilai LI kembali aman? Yuk, terapkan konsep Power Zone!

Power Zone adalah zona paling aman dan bertenaga pada tubuh manusia, yakni di antara pertengahan paha hingga pertengahan dada. Saat pekerja mengangkat atau memindahkan barang pada zona tubuh tersebut, otot bekerja dengan kekuatan maksimal, sementara tekanan pada tulang belakang berkurang drastis.
Jika kalian menemukan stasiun kerja dengan nilai LI tinggi, target utama perbaikannya adalah memastikan aktivitas tersebut berada di dalam Power Zone. Praktik lapangannya dapat berupa:

  • Menaikkan palet atau menggunakan meja hidrolik agar pekerja tidak perlu mengambil barang dari atas lantai.
  • Menyimpan material atau spare part yang paling berat di rak bagian tengah, bukan pada rak bagian paling bawah ataupun paling atas.

Menggunakan rancangan kerja pada area Power Zone membuat nilai Horizontal Multiplier (HM) dan Vertical Multiplier (VM) pada rumus NIOSH akan otomatis membaik. cedera punggung dapat dicegah sehingga pekerja lebih nyaman dan produktivitas pun tetap terjaga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *