Laboratorium Menengah Teknik Industri

Cumulative Trauma Disorders (CTDs)

Cumulative Trauma Disorders (CTDs) dapat didefinisikan sebagai kumpulan kondisi patologis yang berdampak pada terganggunya fungsi normal jaringan lunak dalam sistem muskuloskeletal. Gangguan ini mencakup berbagai struktur penting seperti saraf, tendon, otot, serta komponen pendukung lainnya, termasuk cakram intervertebralis (intervertebral discs). Kondisi ini umumnya berkembang secara progresif akibat tekanan mekanis berulang atau berkepanjangan, sehingga memicu respon inflamasi atau degeneratif pada jaringan tersebut. Akibatnya, penderita dapat mengalami nyeri, keterbatasan gerak, atau penurunan fungsi biomekanik, yang menyebabkan aktivitas sehari-hari maupun produktivitas kerja terganggu.

Keluhan yang terkait dengan Cumulative Trauma Disorders (CTDs) adalah gangguan pada jaringan tubuh seperti saraf, otot, tendon, ligamen, tulang, dan persendian, yang umumnya terjadi pada ekstremitas tubuh. Bagian-bagian yang sering mengalami keluhan ini meliputi ekstremitas atas seperti tangan, pergelangan tangan, siku, dan bahu. Ekstremitas bawah seperti kaki, lutut, dan pinggul, serta tulang belakang yang mencakup punggung dan leher. Keluhan tersebut biasanya muncul akibat paparan beban kerja yang bersifat statis, berulang, atau berlangsung dalam jangka waktu lama. Secara umum, gangguan otot yang timbul akibat CTDs dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama.

  1. Keluhan sementara (reversible), yaitu kondisi ketegangan otot yang terjadi selama otot menerima beban statis, namun gejala ini akan mereda atau hilang sepenuhnya setelah beban dihentikan dan otot mendapatkan waktu untuk beristirahat.
  2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang tidak segera membaik meskipun pembebanan telah dihentikan; pada kondisi ini, rasa nyeri atau ketidaknyamanan berlangsung lebih lama dari biasanya, sehingga mengindikasikan adanya kerusakan jaringan yang lebih serius.

Gejala Cumulative Trauma Disorders (CTDs)

  • Jenis pekerjaan dengan pola aktivitas yang monoton repetitif, atau kurang bervariasi.
  • Postur tubuh yang tidak ergonomis atau tidak alami saat bekerja.
  • Penggunaan atau pengerahan otot yang melebihi kemampuannya.

Faktor-faktor risiko yang memicu munculnya Cumulative Trauma Disorders (CTDs)

  • Sejumlah kondisi biomekanik yang tidak ideal selama aktivitas fisik.
  • Penerapan gaya atau beban kerja yang melebihi kapasitas adaptif jaringan tubuh.
  • Frekuensi gerakan berulang dengan posisi tubuh yang tidak tepat.

 Selain itu, terdapat ciri dari Cumulative Trauma Disorders (CTDs) yaitu cedera jaringan lunak akibat paparan terus menerus dari beberapa faktor ergonomi dan umumnya berkembang dalam tubuh kecil, seperti jari, pergelangan tangan, siku, dan leher. Contohnya yaitu gangguan tendon dimana terjadi peradangan yang penyebabnya adalah gesekan berulang antara tendon dan ligamen, dan lainnya. Selanjutnya, gangguan saraf dimana tekanan saraf dari paparan yang berulang pada pergelangan tangan dan gangguan neuromuskular yaitu terdapat tekanan di saraf dari paparan berulangan pada suhu dingin atau getaran (Dwijowiguno, 2023).

Menurut Ayu (2021), terdapat upaya perbaikan mencegah Cumulative Trauma Disorders (CTDs) dalam segi ergonomi, yaitu:

  1. Memperbaiki postur kerja statis, seperti duduk atau berdiri.

  2. Memperbaiki postur kerja dinamik, seperti memahat atau menyangkul.

  3. Memperbaiki tata letak alat kerja dan proses kerja.

  4. Memperbaiki kerja manual, seperti mengangkat atau menarik beban.

Oleh karena itu, menjaga kondisi pekerjaan agar tidak menimbulkan penyakit Cumulative Trauma Disorders (CTDs) sangat penting, minimal dengan melakukan pencegahan atau pengurangan penyakit akibat faktor risiko ergonomi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *